Kaki Gunung Haruman – Garut

Standard

perjalanan terus berlanjut….capek, lelah dan letih tak terasa karena kau benar2 merasakan hal-hal yang luar biasa pada orang-orang kreatif di sekelilingku ini hehehe…terasa mempunyai keluarga baru…berbicara dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang memang memahami ilmu hidup ^,^

saat ini mobil menuju ke arah garut kembali, menuju ke kaki gunung haruman…menuju ke ziarah selanjutanya…ada apa di kaki gunung haruman? berikut cerita mengenai sejarah yang ada di gunung haruman :

Riwayat tokoh yang satu ini tidak begitu jelas. Dokumentasi tertulis yang menerangkan kisah hidupnya minim sekali. Cerita tentang riwayat hidupnya hanya bisa diperoleh dari tuturan lisan dan lebih bersifat mitos. Satu-satunya bukti bahwa tokoh ini pernah ada adalah makamnya di kaki Gunung Haruman, tepatnya di Kampung Cilanjung, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, yang banyak diziarahi orang dari berbagai daerah. Di komplek pekuburan itu juga terdapat makam kakek dan neneknya juga istri-istrinya.

Cerita yang tersebar dari mulut ke mulut mengenai tokoh ini mengisahkan bahwa Jafar Sidik – sebagian orang menyebutnya Embah Wali Jafar Sidik – adalah penyebar Islam di wilayah Garut Utara, terutama di wilayah Cibiuk dan Limbangan pada abad ke- 17. Oleh karena itulah ia diberi gelar Syeh. Ayahnya bernama Kyai Mas’ud, cicit Dalem Wirabangsa yang masih keturunan Sunan Cipancar.

Banyak cerita mengenai tokoh ini, termasuk soal kesaktian dan kesederhanaanya. Di antara cerita yang populer adalah kisahnya saat menunaikan ibadah haji ke Mekah. Walaupun bermodal pas-pasan, Jafar Sidik nekat berangkat ke Mekah dengan serombongan orang. Masalah muncul ketika ia selesai menunaikan ibadah haji. Uang yang dimilikinya sudah tidak mencukupi lagi untuk ongkos pulang. Ketika orang-orang sekampungnya kembali ke tanah air, Jafar Sidik justru kebingungan sendiri di Mekah. la hanya bisa tinggal di Masjidil Haram sambil terus-menerus berdoa pada Allah agar diberi jalan untuk bisa pulang ke rumah. Suatu hari ada juru kunci yang menghampirinya dan bertanya mengapa ia dirundung duka. Maka diceritakanlah segala kebingungannya. Kini pahamlah juru kunci, kenapa Jafar Sidik hanya berdiam diri di mesjid. Juru kunci itu lalu menggelar sebuah sorban gading, dan Jafar Sidik disuruh duduk di atasnya. Sang juru kunci memerintahkan agar Jafar Sidik memejamkan mata dan minta kepada Alloh sepenuh hati agar ia diberi pertolongan. Konon, ketika la membuka matanya, Jafar Sidik sudah berada di kamar rumahnya pada dinihari. Tentu saja ia disambut sanak keluarganya dengan suka cita. Terang saja, karena keluarganya sekian lama mengkhawatirkan nasib Jafar Sidik setelah diketahui tidak ikut pulang bersama rombongannya.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa suatu ketika rumah orangtuanya disatroni tujuh perampok. Jafar Sidik mengetahui perampokan itu, namun ia membiarkannya saja sehingga para perampok leluasa menguras barang-barang seisi rumah. Ajaibnya, setelah keluar rumah para perampok seperti kebingungan dan tidak dapat melarikan diri. Akhirnya para perampok itu insyaf dan menjadi pengawal setia Jafar Sidik.

Konon, Syeh Jafar Sidik beristri empat. Di antara istrinya adalah Raden Ajeng Fatimah, anak seorang demang. R.A. Fatimah dikenal juga sebagai orang yang menciptakan sambel Cibiuk yang terkenal hingga sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s