Pamijahan – Kab. Tasikmalaya

Standard

petualang ke-dua kami ke pamijahan…hehe sedikit ada kejadian aneh tentang pamijahan, saat datang kesana lampu satu kampung disana mati…hehehe sedikit cukup mengejutkan pluss menakutkan tentunya hahaha…

dan bus rombongan yang terdiri dari 2 bus pun mengalami masalah..yang satu mogok yang satu lagi lampunya mati hehehe….alhasil mobil crew datang duluan…dan setelah rombongan bus datang pun hal pertama yang dialami adalah lampu satu kampung mati..see dua kali lampu satu kampung mati hehehe…lumayan bikin bulu kuduk berdiri hehehe…

setelah itu crew siap2 dengan perlatan perang, kami naik gunung *gak gunug2 amat sih, tapi setidaknya memang menanjaki jalan setapak yang kiri-kanan nya banyak dagangan hahaha aneh memang tapi itu yang ada disana, yang kupikirkan saat itu “orang mau ziarah apa mau belanja yah??? hahhaa”

hmmmm menaiki tangga yang kesekian membuat bulu kuduk berdiri, gak segitunya juga sih tapi ini kali pertama aku malam2 datang ke kuburan hiiii…

sedikit banyak nya aku memang ketakutan hehehe😀 tapi semua tetap harus berjalan….mati2an menahan takut hahaha…terbantu dengan banyak orang, sedikit tenag ^,^

hmmm ini sedikitnya cerita tentang petualangan ke-dua ku :

Tokoh ulama yang lahir di Mataram tahun 1650 ini adalah tokoh agama yang diziarahi di Pamijahan. Abdul Muhyi tumbuh dan menghabiskan masa mudanya di Gresik dan Ampel, Jawa Timur. Ia pernah menuntut ilmu di Pesantren Kuala Aceh selama delapan tahun. Ia kemudian memperdalam Islam di Baghdad pada usia 27 tahun dan menunaikan ibadah haji.

Setelah berhaji, ia kembali ke Jawa untuk membantu misi Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Awalnya Abdul Muhyi menyebarkan Islam di Darma, Kuningan, dan menetap di sana selama tujuh tahun. Selanjutnya, ia mengembara hingga ke Pameungpeuk, Garut selatan, selama setahun.

Abdul Muhyi melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi dan Lebaksiuh. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia bermukim di dalam goa (sekarang dikenal sebagai Goa Safarwadi) untuk mendalami ilmu agama dan mendidik para santrinya.

Bersama para santrinya, Abdul Muhyi menyebarkan Islam di Kampung Bojong, sekitar 6 km dari goa. Sekarang tempat itu lebih dikenal sebagai Kampung Bengkok. Sekitar 2 kilometer dari Bojong, ia mendirikan perkampungan baru yang disebut Kampung Safarwadi. Kampung itu kemudian berganti nama menjadi Pamijahan, yang artinya tempat ikan bertelur (memijah).

Nama Safarwadi berasal dari bahasa Arab, yaitu “safar” (jalan) dan “wadi” (lembah/jurang). Jadi, Safarwadi adalah jalan yang berada di atas jurang, sesuai dengan letaknya di antara dua bukit di pinggir  kali. Goa Safarwadi merupakan salah satu tujuan utama peziarah yang berkunjung ke Pamijahan. Panjang lorong goa sekitar 284 meter dan lebar 24,5 meter. Peziarah bisa menyusuri goa dalam waktu dua jam. Salah satu bagian goa yang paling sering dikunjungi adalah hamparan cadas berukuran sekitar 12 meter x 8 meter yang disebut sebagai Lapangan Baitullah. Tempat itu dulu sering dipakai shalat Abdul Muhyi bersama para santrinya.

Di samping lapangan cadas itu terdapat sumber air Cikahuripan yang keluar dari sela-sela dinding batu cadas. Mata air itu terus mengalir sepanjang tahun. Oleh masyarakat sekitar, air itu dipopulerkan sebagai air “zamzam” Pamijahan. Air itu dipercaya memiliki berbagai khasiat. Menjelang Ramadhan, para peziarah di Pamijahan tak lupa membawa botol air dalam kemasan, bahkan jeriken, untuk menampung air “zamzam” itu. Dengan minum air itu, badan diyakini tetap sehat selama menjalankan ibadah puasa.

Syeikh Muhyi ini disebut juga oleh bangsa wali lainnya dengan gelar, A’dzomut darojat/ orang yang mempunyai derajat agung. Bercerita tentang derajat kewaliyan, tentu kita hanya paham atau mengerti secara sepintas, bahwa yang disebut derajat seperti ini hanya ada dizaman wali songo. Sebenarnya pemahaman seperti ini tidak benar, karena derajat waliyulloh akan terus mengalir hingga sampai pada akhir zaman sebagai sunnaturrosul. Seperti pada zaman pertengahan misalnya, derajat seorang waliyulloh telah membanjiri berbagai kota, seperti, Yaman, Turkei, Mesir, Arab dan daerah Timur Tengah lainnya.

Syeikh Muhyi, dalam sejarah hidupnya beliau seorang yang zuhud, pintar, sakti dan terkenal paling berani dalam memerangi musuh Islam. Namun semua itu adalah masa lalu beliau dan kini hanya tinggal kenangan belaka. Hanya saja walau beliau sudah ratusan tahun telah tiada, namun rohmat serta kekeramatannya masih banyak diburu, terutama oleh para peziarah yang minta berkah lewat wasilahnya. Mengenal jati diri Syeikh Muhyi, yang kurun zamannya setara dengan para Wali Songo, sesungguhnya dalam derajat kewaliyan, Syeikh Muhyi ini masih dibawah beberapa wali lainnya, seperti, Sunan Gunung Jati, Sulthan Hasanuddin Banten, Mbah Cakra Buana, Pangeran Panjunan, Pangeran Cirebon dan Sunan Kali Jaga serta yang lainnya. Namun dalam suatu penghormatan, Syeikh Muhyi ini tergolong orang yang sangat dimulyakan oleh para wali lainnya pada masa tersebut, semua bukan karena derajatnya sebagai seorang Waliyulloh Kamil, melainkan dari tempat yang dihuninya yang menjadikan semua waliyulloh sangat menghormatinya. Sebab dalam tempat yang dihuni oleh Syeikh Muhyi ini, ada satu tempat yang sangat dimulyakan oleh seluruh wali sedunia, yaitu, goa puncak mujarob. Dimana goa ini berlokasi diatas areal puncak Pamijahan yang sekarang tidak boleh dimasuki oleh para peziarah. Sebagai goa yang sangat dimulyakan, tentunya asal usul goa ini punya sejarah tersendiri dalam kehidupan alam nyata sehingga sampai saat ini masih sangat dimulyakan keberadaannya oleh seluruh bangsa Waliyulloh. Nah, disini Misteri akan sedikit mengupas tentang sejarah goa mujarob. Sebelum Walisongo tercipta dibumi tanah Jawa, jauh jauh goa mujarob telah ditempati oleh seorang Waliyulloh yang diberikan umur panjang hingga kini oleh Allah SWT, beliau ini bernama, Syeikh Sanusi, yang terlahir dizaman para sahabat Rasulullah SAW. Lewat sebuah kesempurnaan ilmunya, Allah SWT, memberikan padanya derajat, Quthbul Jalaliyah/ orang yang mengesahkan derajat kewaliyan seseorang. Dari riwayat hidup yang beliau jalani, hampir seluruh wali dimuka bumi ini semua melalui pengesahannya. Bahkan didalam kehidupan seorang Waliyullah Kamil sekalipun, seperti, Syeikh Abdul Qodir Al Jailani, yang mana pernah menjadi salah satu muridnya dan derajat kewaliyannya juga disahkan olehnya.

Sebagai seorang dedengkot wali Jawa, Syeikh Sanusi ini punya kelebihan lain, seperti halnya, Nabiyulloh Hidir AS, yang mempunyai, MA’UL HAYAT/ air kehidupan. Sedangkan Syeikh Sanusi, mempunyai, MA’UL MUJAROB/ air istijabah. Dari kedua air ini, siapapun yang bisa meminumnya, niscaya segala umur kita bisa ditangguhkan sampai pada hari kiamat tiba. Namun sayangnya, sejarah syeikh Sanusi jarang sekali orang tahu, mungkin karena kurunya yang lebih terbelakang jauh sebelum para Wali Songo lainnya, sehingga dalam sejarah tanah Jawa, Syeikh Sanusi jarang sekali masuk dalam data cerita buku sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s